My World

My World

Selasa, 29 Maret 2011

RIYA & NIFAK SEBAGAI PENYAKIT HATI

BAB 1
PENDAHULUAN




Islam bukanlah agama yang menampakkan hal hal luar dan seremonial, karena menampakkan ibadah dan syi’ar itu tidak mencukupi selama tidak bersumber dari keikhlasan karena Allah semata. Ikhlas sangat berpengaruh dalam lubuk hati, mendorong untuk melakukan amal shalih, menerapkan sebuah metode yang dapat memperbaiki kehidupan manusia di dunia ini. Ketika iman telah kokoh tertanam dalam hati, maka ia akan bergerak cepat agar zat iman itu terealisasi dalam bentuk amal shalih.
Oleh karena hakikat pendidikan yang penting ini, Allah mengisyaratkan dalam firmanNya,
“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, Kami tidak menghendaki Balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (Al Insaan : 8-9)
Bentuk keluar dengan sombong dan riya’ kepada manusia dan berpaling dari jalan Allah akan selalu hadir di depan pasukan orang beriman. Mereka melihat dengan mata kepala mereka keluarnya orang Quraisy pada hari Pertempuran Badar dengan kendaraan perangnya, jumlah pasukannya, baik yang berjalan maupun yang menunggang kuda, untuk mengulang kembali kemenangan Pertempuran Badar, di dengar oleh orang Arab dan selalu terus diperhitungkan. Akan tetapi riya’ ini cepat berakhir, berakibat buruk, dan cita citanya juga buruk. Riya’ menjadi suatu pungkasan. Orang orang musyrik telah menunjukkan riya’ dan keangkuhan.












BAB II
PEMBAHASAN


A. Pengertian Riya

Riya berasal dari kata ru’yah (penglihatan) sebagaimana sum’ah berasal dari kata sam’u (pendengaran) dari sekedar makna bahasa ini bisa difahami bahwa riya adalah ingin diperhatikan atau dilihat orang lain. Dan para ulama mendefiniskan riya adalah menginginkan kedudukan dan posisi di hati manusia dengan memperlihatkan berbagai kebaikan kepada mereka.
Dari definisi tersebut jelas bahwa dasar perbuatan riya’ adalah untuk mencari keridhoan, penghargaan, pujian, kedukan atau posisi di hati manusia semata dalam suatu amal kebaikan atau ibadah yang dilakukannya.
Dari segi syara, imam Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Bari mengatakan bahwa ria adalah Ibadah yang dilakukan dengan tujuan atau maksud agar dapat dilihat orang lain sehingga memuja pelakunya.
Allah berfirman dalam Surah Ar Rum ayat 41 :
Artinya :
“ Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kenbali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar Rum : 41 )

Orang yang riya itu sangatlah merugi selain ia tidak memperoleh apa-apa dari Allah SWT karena sifat riya telah menghanguskan amalannya, diapun dianggap telah menyukutukan Allah karena apa yang dilakukannya bukan dilandasi ikhlas karma Allah melainkan karena mengharapkan pujian dari makhluk Allah.

Sabda Rasulullah SAW yang artinya :
“Sesungguhnya yang paling aku takuti atas kamu sekalian adalah syirik kecil.” Sahabat bertanya : “Apakah syirik kecil itu ya Rasulullah?. Rasulullah bersabda : “ Syirik yang paling kecil itu adalah Riya.”

Kenikmatan beramal bukan berdasarkan pujaan dari seseorang, melainkan terletak pada keikhlasan kita dalam melakukannya. Kita tidak akan merasa lebih letih, kecewa, atau merasa rugi dengan apa yang telah dilakukan apabila segala sesuatunya kita perbuat karena Allah semata, kita meyakini bahwa Allah melihat semua yang kita lakukan. Firman Allah :
Artinya : Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. At-Taubah : 16 )

Ibnu Qudamah mengatakan,”Apabila sifat riya’ itu muncul sebelum selesai suatu ibadah dikerjakan, seperti sholat yang dilakukan dengan ikhlas dan apabila hanya sebatas kegembiraan maka hal itu tidaklah berpengaruh terhadap amal tersebut namun apabila sifat riya sebagai faktor pendorong amal itu seperti seorang yang memanjangkan sholat agar kualitasnya dilihat oleh orang lain maka hal ini dapat menghapuskan pahala.
Adapun apabila riya menyertai suatu ibadah, seperti seorang yang memulai sholatnya dengan tujuan riya’ dan hal itu terjadi hingga selesai sholatnya maka sholatnya tidaklah dianggap. Dan apabila ia menyesali perbuatannya yang terjadi didalam sholatnya itu maka seyogyanya dia memulainya lagi. (A Mukhtashar Minhajil Qishidin hal 209).

Dilihat dari bentuknya Ria ada 2 macam yaitu :
1. Ria dalam Niat
Maksudnya adalah berniat sebelum melakukan pekerjaan aga pekerjaan tersebut dipuji oleh orang lain. Padahal niat sangat menentukan nilai suatu pekerjaan. Jika pekerjaan baik dengan niat karena Allah, maka perbuatan itu mempunyai nilai disisi Allah, dan jika perbuatan itu dilakukan karena hal lain seperti ingin mendapat pujian, maka perbuatan itu tidak memperoleh pahala dari AllahSWT. Sebagaimana Hadits Nabi Muhammad SAW. Yang artinya ;
“ Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung niatnya……….” (HR. Muslim)

2. Ria Perbuatan
Ria yang berhubungan dengan perbuatan ini masih dapat dilihat sekalipun agak samara-samar. Bila kita mendapatkan orang yang demikian, kita tidak boleh berburuk sangka terllebih dahulu. Contoh perbuatan Ria dalam mengerjakan sholat, seseorang tampak memperlihatkan kesungguhan dan kerajinan, namun alasannya takut dinilai rendah dihadapan guru atau oranglain. Orang yang ria dalam shalat akan celaka. Firman Allah SWT dalam surah Al-Ma’un Ayat 4-7 :
Artinya : 4. “Maka celakalah bagi orang-orang yang sholat.”
5. “(yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya.”
6. “Orang-orang yang berbuat Ria.”
7. “Dan enggan (menolong dengan) barang berguna.”
(QS. Al-Ma’un: 4-7 )
Dalam firman Allah yang lain yaitu dalam surah An-Nisa ayat 142 dinyatakan sebagai berikut :
“ Sesungguhnya orang-orang yang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membelas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk sholat, mereka berdiri dengan malas, Mereka bermaksud ria (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah menyebut Allah, kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa : 142)

# Bahaya Riya’ bagi Amal Perbuatan:

a.) Menyia-nyiakan amal shalih, dari pengaruh baiknnya dan tujuan luhurnya Islam bukanlah agama yang menampakkan hal hal luar dan seremonial, karena menampakkan ibadah dan syi’ar itu tidak mencukupi selama tidak bersumber dari keikhlasan karena Allah semata. Ikhlas sangat berpengaruh dalam lubuk hati, mendorong untuk melakukan amal shalih, menerapkan sebuah metode yang dapat memperbaiki kehidupan manusia di dunia ini.
Ketika iman telah kokoh tertanam dalam hati, maka ia akan bergerak cepat agar zat iman itu terealisasi dalam bentuk amal shalih. Oleh karena hakikat pendidikan yang penting ini, Allah mengisyaratkan dalam firmanNya:
“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, Kami tidak menghendaki Balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (Al Insaan : 8-9).

# Adapun beberapa kiat untuk menghilangkan penyakit riya’, menurut Imam Ghozali adalah :
1. Menghilangkan sebab-sebab riya’, seperti kenikmatan terhadap pujian orang lain, menghindari pahitnya ejekan dan anusias dengan apa-apa yang ada pada manusia, sebagaimana hadits Rasulullah saw dari Abu Musa berkata,”Pernah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah saw dan mengatakan,’Wahai Rasulullah bagaimana pendapatmu tentang orang yang berperang dengan gagah berani, orang yang berperang karena fanatisme dan orang yang berperang karena riya’ maka mana yang termasuk dijalan Allah? Maka beliau saw bersabda,’Siapa yang berperang demi meninggikan kalimat Allah maka dia lah yang berada dijalan Allah.” (HR. Bukhori).
2. Membiasakan diri untuk menyembunyikan berbagai ibadah yang dilakukannya hingga hatinya merasa nyaman dengan pengamatan Allah SWT terhadap berbagai ibadahnya itu.
3. Berusaha juga untuk melawan berbagai bisikan setan untuk berbuat riya pada saat mengerjakan suatu ibadah.

B. Pengertian Nifak

Kata Nifak berasal dari bahasa arab dan merupakan “shigat isim mashdar” yang artinya berpura-pura atau bermuka dua. Kata kerjanya adalah “naafaqa” yang mengandung arti berbuat pura-pura. Orang yang bermuka dua atau yang suka berbuat pura-pura disebut munafik, kata jamaknya adalah Munafikun/Munafikin.
Menurut Ibnu Katsir (1302-1371 M) seorang alim terkemuka, ahli fiqih dan tafsir, orang munafik itu ialah orang yang menampakkan kebaikan dan merahasiakan kejahatan. Kemunafikan itu bermacam-macam. Secara garis besar kemunafikan terbagi 2, yakni yang berhubungan dengan I’tikad, ini merupakan dosa besar yang tidak terampuni serta menyebabkan kekalnya di neraka dan kemunafikan yang berhubungan dengan amaliah, ini termasuk dosa besar.
Sedangkan Prof. T. M. Hasbi Ash_shaddiqi menjelaskan bahwa orang munafim itu adalah orang yang melahirkan kebajikan dan menyembunyikan kejahatan. Dengan lidahnya mereka mengaku beriman tetapi hati mereka menertawakan apa yang diucapkan oleh lidah mereka.
Nifak adalah sumber segala malapetaka. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah telah mengungkapkannya secara tulus dalam kitab Madaarijus Saalikiin (I/347-359) sebagai berikut, "Adapun nifak merupakan penyakit bathin yang sangat berbahaya. Seseorang bisa dikuasai penyakit ini tanpa disadari. Hakikatnya sangat samar atas kebanyakan orang. Dan biasanya menjadi lebih samar atas orang yang telah terjangkiti penyakit nifak ini. Ia mengira telah melakukan perbaikan, namun pada hakikatnya ia merusak."
Nifak ada dua macam: Nifak akbar dan Nifak ashghar. Nifak akbar adalah nifak yang menyebabkan pelakunya kekal di dalam kerak neraka. Yaitu, ia menampakkan kepada kaum muslimin imannya kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan kepada hari akhirat. Namun, dalam bathin ia tidak mengimani semua itu, bahkan mendustakannya. Ia tidak mengimani bahwa Allah berkata-kata dengan perkataan yang Allah turunkan kepada seseorang yang Dia pilih sebagai utusan. Yaitu, agar utusan itu menyampaikan risalah-Nya kepada umat manusia.
Allah telah membongkar kebobrokan kaum munafikin dan mengungkap rahasia bathin mereka dalam Al-Qur'an. Allah memperlihatkan hakikat mereka kepada ummat manusia agar dapat mewaspadainya dan dapat menjauhi mereka. Allah menyebutkan tiga golongan manusia pada awal surah Al-Baqarah, yakni kaum mukminin, kaum kafir, dan kaum munafik. Allah menyebutkan empat ayat mengenai kaum mukminin, dua ayat mengenai kaum kafir, dan tiga belas ayat mengenai kaum munafik. Malapetaka yang menimpa Islam akibat perbuatan mereka sangat besar. Mereka menisbatkan diri kepada Islam, mengaku sebagai pembela dan loyal kepada Islam. Padahal, hakikatnya mereka adalah musuh. Mereka menunjukkan permusuhan dalam segala bentuk yang dikira oleh orang jahil bahwa semua itu adalah ilmu dan perbaikan, padahal sebenarnya merupakan puncak kejahilan dan kerusakan.
# Dasar Hukum Larangan Berprilaku Munafik
Untuk melandasi pengertian terhadap larangan berprilaku munafik, ada ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan munafik terdapat dalam surat At-Taubah ayat 68 :
Artinya:” Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka jahanam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah melaknati mereka dan bagi mereka azab yang kekal.” (QS. At-Taubah : 68)
# Tanda-tanda orang Munafik
Menurut hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Iman Muslim adalah :
Artinya: Tanda-tanda orang munafik itu ada 3:
1. jika berbicara ia berdusta
2. jika berjanji ia mengingkari, dan
3. jika dipercaya ia berkhianat. (H.R Bukhari dan Muslim)
a.) Berdusta
Berkata bohong/dusta sering tidak kita sadari, baik dalam kadar yang kecil maupun besar . Padahal betapa keji dan nistanya perkataan dusta itu. Kebanyakan orang yang berdusta tujuannya untuk mencari keuntungan pribadi atau golongan serta membela diri yang tidak pada tempatnya.
Tetapi ada jenis dusta yang dibolehkan oleh agama, artinya hukumnya boleh atau bahkan mungkin bias jadi menjadi wajib, yaitu :
Pertama, dalam rangka mencegah terjadinya pertumpahan darah / saling bunuh membunuh.
Kedua, menyelamatkan jiwa orang baik dari penganiyaan orang zhalim.

b.) Mengingkari janji
Ada ungkapan “Janganlah engkau berjanji jika tak mau menepatinya.” Karena kalu sudahmenjatuhkan kata-kata janji itu adalah hutang. Maka sangatlah berat hukumnya bagi orang yang tidak mau membayar hutang, sehingga perkara hutang ini akan terus dibawa kea lam akhirat nanti.
Ada beberapa sebab orang tidak menepati janji antara lain : ingin lari dari tanggungjawab, ingin mencari keuntungan, ingin mengicuh orang yang diberi janji karena sebelumnya menaruh dendam/perasaan tidak simpati/ tidak menempati janji.

c.) Berkhianat
Amanat itu adalah titipan tanggungjawab yang harus dipikul dan dijalankan dengan baik dan benar sesuai dengan yang memberi amanat. Jenis amanat banyak sekali misalnya amanat jabatan, amanat pemberian anak, kedudukan suami/istri dalam keluarga/ titipan sesuatu untuk disampaikan kepada yang berhak, baik yang bersifat materi maupum immateri.



Allah SWT berfirman :
Artinya :” Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.”(QS. An-Nisa : 58)
# Perilaku dan Sifat – sifat orang Munafik
Selain perilaku-perilaku di atas, cirri-ciri orang-orang munafik yang lain adalah sebagai berikut.
1. Berpenyakit hati ( QS. Al-Baqarah : 10)
2. Menipu diri sendiri tetapi tidak disadari (QS. Al-Baqarah : 9)
3. Pengecut.
4. Bermuka dua
5. Sombong
6. Penakut
7. Kikir.

Setiap munafik memiliki dua wajah: satu wajah saat bertemu orang-orang beriman, dan wajah yang lain saat bertemu dengan kawan-kawannya dari kalangan kaum mulhid (kafir). Dia memiliki dua lisan: satu lisan saat bertemu dengan kaum mukminin dan lisan yang lain untuk mengungkapkan rahasia bathin mereka yang tersembunyi.
Allah SWT berfirman, “Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, ‘Kami telah beriman.’ Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya kami sependirian denganmu, kami hanyalah berolok-olok’.” (Al-Baqarah: 14).
Mereka berpaling dari Al-Qur'an dan As-Sunnah untuk mengolok-olok dan melecehkan orang yang berpegang teguh dengan keduanya. Mereka tidak mau tunduk kepada hukum Al-Qur'an dan As-Sunnah. Allah SWT berfirman, “Allah akan (membalas) olokan-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.”(Al-Baqarah: 14).

# Sumber kemunafikan
Pertama: Tidak mampu berhadapan langsung.
Sesungguhnya musuh-musuh Islam, ketika tidak mampu memgadakan perlawanan secara langsung, mereka menggunakan pakaian nifak (kemunafikan) untuk meneruskan permusuhan dan perlawanannya. Musuh-musuh Rasul Saw saat itu menampakkan permusuhan terhadapnya. Tetapi mereka menampakkannya dengan kepatuhan dan ketundukan ketika Rasul dapat mengalahkan mereka. Dan mereka melanjutkan permusuhannya terhadap Islam dengan menyembunyikan kekafirannya.
Kedua: Mental yang lemah
Orang-orang yang lemah jiwanya, penakut dan tidak mempunyai keberanian untuk memprotes dan berkata-kata dalam menentang lawan-lawannya senantiasa berusaha menggunakan nifak sebagai jalan hidupnya. Mereka tidak berani berhadapan langsung, tetapi menampakkan persetujuannya dengan semua orang.
Ketiga: Cinta dunia
Sesungguhnya kemunafikan internasional pada masa sekarang ini disebabkan karena cinta dunia. Sesungguhnya sebab terjadinya nifak dan bermuka dua dalam bermuamalah dan adanya berbagai undangan untuk menghormati hak-hak manusia yang dilakukan oleh negara-negara super power dan berbagai hal dan diamnya beberapa negara pada hal-hal lainnya, meskipun telah terjadi berbagai kejahatan terhadap manusia adalah karena cinta dunia.
(http://telagahikmah.org/id/index.php?option=com_content&task=view&id=46&Itemid=1)



















BAB III
PENUTUP


KESIMPULAN

Benih kemunafikan tumbuh di atas dua penyangga, yaitu kebohongan dan riya'. Tempat keluarnya dari dua sumber, yaitu lemahnya ilmu dan lemahnya 'azam (ketetapan hati/niat). Jika terkumpul keempat rukun ini, kemunafikan akan tumbuh subur dan kokoh. Akan tetapi, gelombang air bah menyeretnya ke tepi jurang kehancuran. Manakala mereka melihat gelombang hakikat dan kenyataan pada hari ditampakkan segala yang tersembunyi dan disingkapnya tirai, dibangkitkan apa yang ada dalam kubur dan diperlihatkan apa yang terselip dalam dada, mereka melihat hasil usahanya bagaikan fatamorgana. Allah SWT berfirman, "Yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapati sesuatu apa pun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amalnya dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya." (An-Nuur: 39).
Amat besar sekali dosa orang-orang yang Munafik dan Riya dihadapan Allah SWT. Perbuatannya sangat tercela di hadapan-Nya, karena selain akan merugikan diri juga dapat membahayakan orang lain, memecahkan kesatuan dan persatuan serta menimbulkan konflik yang besar dalam masyarakat, bahkan terjadinya peperangan bila kemunafikan terjadi.














DAFTAR PUSTAKA



Mutmainah, M.S Anwari. 2007. “Pendidikan Agama Islam SMA/MA kelas XI”. Jakarta : Piranti Darma Kalokatama.
Umam, Chatibul,dkk. 1994. “ Aqidah Akhlak untuk Madrasah Aliyah”. Kudus : Menara Kudus
Tim MGMP Pendidikan Agama Islam. 2005. PENDIDIKAN AGAMA ISLAM kelas x. Jakarta : Dongpong Karya.
Yunus Mohamad, Syamsuri. 2000. ”Pendidikan Agama Islam SMU kelas 1”. Jakarta : PENERBIT ERLANGGA.
Anwar , Junaidi dkk. 2005. “AGAMA ISLAM lentera kehidupan “. Jakarta : Yudistira.

Situs Internet :
- http://mantoakg.blogspot.com/2010/11/bahaya-riya.html
- http://www.facebook.com/topic.php?uid=244147677489&topic=16085
- http://alislamu.com/larangan/39-dalam-aqidah/1078-larangan-berbuat-munafik.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar